Dari Pisang Kepok ke Kemandirian: Cara Kelompok Swabantu Kasih Mendobrak Stigma di Nias
Di Desa Loloana’a Lolomoyo, Gunungsitoli, pisang kepok bukan sekadar komoditas kebun yang biasa dijual mentah ke pasar. Bagi 35 anggota Kelompok Swabantu (SHG) Kasih, buah ini adalah media untuk membuktikan satu hal: bahwa disabilitas psikososial bukanlah penghalang untuk menjadi produktif.
Pada 17 November lalu, suasana di desa tampak berbeda. Para anggota kelompok, yang terdiri dari orang dengan disabilitas psikososial (ODDP), penyandang disabilitas fisik, serta para pendamping, berkumpul bukan untuk sesi konseling formal, melainkan untuk mengolah tepung pisang.
Bukan Sekadar Pelatihan, Tapi Ruang Pulih
Kegiatan yang diinisiasi oleh CDRM-CDS melalui dukungan Program DIGNITY INKLUSI olah Pusat Rehabilitasi YAKKUM ini sebenarnya adalah bagian dari rehabilitasi berbasis masyarakat. Namun, alih-alih hanya berfokus pada aspek klinis, pendekatan yang diambil adalah pemberdayaan ekonomi.
Idaman Kristian Zega, salah satu anggota kelompok, menceritakan bagaimana perubahan kecil mulai terasa dalam kesehariannya. "Selain dapat bimbingan, saya senang bisa bertemu teman-teman dan melakukan hal produktif seperti membuat tepung pisang dan sapu lidi," ujarnya.
Bagi Idaman dan rekan-rekannya, aktivitas fisik seperti memproses bahan mentah menjadi tepung adalah terapi. Ada rasa percaya diri yang tumbuh ketika tangan mereka mampu menciptakan sesuatu yang bernilai jual.
Mengubah Cara Pandang Desa
Dukungan dari otoritas lokal menjadi kunci agar program ini tidak sekadar menjadi seremonial. PJ Kepala Desa Loloana’a Lolomoyo, Aroziduhu Zega, melihat kelompok ini sebagai aset desa, bukan beban.
"Dengan berkegiatan ekonomi, kelompok ini membuktikan bahwa mereka setara di masyarakat," tegas Aroziduhu. Pernyataan ini penting untuk mengikis stigma yang selama ini sering kali mengisolasi teman-teman disabilitas dari ruang publik.
Senada dengan itu, Novi Fitriani Nazara dari CDRM-CDS menekankan bahwa kemandirian ekonomi adalah target jangka panjang. Ia ingin melihat produk tepung pisang ini merambah pasar lokal dan bersaing dengan produk UMKM lainnya. "Kuncinya adalah kerja sama dengan pemerintah desa dan pelaku pasar. Kita ingin usaha ini berkelanjutan," tambah Novi.
Ruang untuk Aktualisasi
Reni Cahya Mutiasari, seorang pelaku UMKM yang turut mendampingi, mengamati perubahan perilaku yang signifikan selama pelatihan. Ia mencatat bagaimana peserta yang awalnya tertutup mulai berani mengambil peran.
"Yang awalnya diam, kini berani maju ke depan dan memegang alat. Ini bukti nyata! Disabilitas adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, mereka hanya butuh ruang dan kesempatan yang sama," ungkap Reni.
Kini, Kelompok Swabantu Kasih punya pekerjaan rumah baru: menjaga konsistensi produksi. Dengan tepung pisang di tangan, mereka tidak lagi menunggu bantuan, melainkan sedang membangun jalan menuju kemandirian yang bermartabat.
Ditulis oleh: Alfitra Yosi Putrijaya
31 November 2025