Dengan dukungan tepat, Yusnita ubah hidupnya

Yusnita pernah mengalami depresi yang membuat kondisinya berubah secara ekstrim. Depresi terkadang membuatnya hanya berdiam di rumah dan tidak melakukan apapun atau justru membuatnya melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya. Sekarang, Yusnita telah menjadi pribadi yang mandiri dan menekuni pekerjaannya.

Selengkapnya

Erico adalah contoh nyata

Erico yang berumur delapan belas tahun saat ini bercita-cita menjadi seorang pengusaha yang sukses agar ia mampu mempekerjakan penyandang disabilitas nantinya. Erico terlahir dengan kondisi kongenital yang mengakibatkan ia tidak mempunyai dua bagian bawah kaki dan telapak kaki. Awalnya kedua orang tuanya tidak tahu bagaimana menangani kondisinya, namun saat orang tuanya membawa ia ke Rumah Sakit Bethesda, dokter disana merujuk Erico ke Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRY).

Selengkapnya

Gempa bumi tidak akan mampu menghentikan Sulistyo

Setelah mengalami luka-luka selama gempa Yogyakarta 2006, Sulistyo yang berusia 18 tahun terus berusaha untuk menjalani hidup sesuai persyaratannya. Sulistyo tinggal di Prambanan, salah satu daerah yang paling parah terkena dampak. Dia baru berusia 7 tahun pada saat gempa, tapi dia ingat bahwa dia berusaha melarikan diri dan menyelamatkan nyawanya. Tiba-tiba, sesuatu jatuh dari atap dan menabrak tubuhnya dan dia tidak bisa merasakan kakinya.

Selengkapnya

Hardiyo membangun kebersamaan

Bagi Hardiyo (51 tahun), bukan hal yang mudah untuk menerima kenyataan bahwa ia adalah seorang penyandang disabilitas. Ia mengalami paraplegia pada tahun 1992 dan sejak saat itulah, ia memutuskan untuk menghabiskan waktunya di dalam rumah. Selama 20 tahun, Hardiyo menutup diri dari lingkungan sosialnya. Di tahun 2012, Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRY) menginisiasi sebuah program pemberdayaan bagi penyandang disabilitas di wilayah Gunungkidul. Saat itulah, PRY bertemu dengan Hardiyo.

Selengkapnya

Apa itu Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas?

Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah perjanjian hak asasi manusia komprehensif. Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas berisi tentang undang-undang yang memastikan semua penyandang disabilitas dapat menikmati semua hak dasar manusia dan kebebasan yang fundamental.

Selengkapnya

    Mitra Kami