'Aku Ingin Ulur Tangan': Perjalanan Peringatan Menjadi Asisten Pemulihan

Selasa, 30 Desember 2025

Bagi sebagian besar orang, sebuah tempat pemulihan mungkin dianggap sebagai titik akhir. Namun bagi Peringatan, Panti Rehabilitasi ini adalah ruang di mana ia menata kembali hidupnya yang sempat terhenti sejenak, sekaligus tempat ia menemukan panggilan baru.

Peringatan bukan lagi sekadar nama di daftar pasien. Lima tahun setelah pertama kali menginjakkan kaki di sini, pria asal Gunungsitoli ini kini berdiri dengan peran berbeda: sebagai asisten staf.

Keberanian yang Lahir dari Empati

Tugas Peringatan tidak ringan. Ia membantu menjaga keamanan, memastikan kawan-kawan difabel psikososial tetap berada dalam lingkungan yang aman, hingga ikut dalam tim penjemputan saat ada pasien yang membutuhkan bantuan darurat di luar sana. Pernah ia berhadapan dengan situasi berisiko, menghadapi orang yang sedang dalam kondisi tidak stabil hanya dengan tangan kosong dan bekal bela diri.

Namun, motivasinya bukan sekadar adrenalin. Ada empati mendalam di sana.

"Saya senang membantu membawa mereka ke sini, karena di sini itu dipulihkan, bukan untuk diapakan," ujarnya. Peringatan tahu rasanya ada di posisi mereka. Itulah sebabnya, ketika ia ditugaskan mengganti perban kawan yang terluka setiap dua hari sekali, rasa bosan atau ragu ia tepis jauh-jauh. "Aku bandingkan dengan pribadi aku sendiri. Aku ingin ulur tangan tanpa pamrih."

Menolak Diam, Memilih Berdaya

Peringatan adalah sosok yang proaktif. Sebelum proses pemulihannya dimulai, ia adalah seorang teknisi di Batam dan pemilik bengkel elektronik. Di yayasan, ia menolak untuk sekadar berdiam diri.

Baginya, menjadi asisten staf adalah cara untuk terus mengasah kemampuan. Ia memperbaiki blender yang rusak, menyambung kabel listrik, hingga membetulkan kipas angin. "Kalau ilmu ini hanya disimpan dan tidak dikerjakan, nanti jadi lupa. Menjadi asisten membuat saya tetap berdaya dan memiliki wawasan luas," jelasnya.

Transformasi ini menunjukkan bahwa difabel psikososial bukanlah subjek pasif. Ketika diberikan kepercayaan dan peran, mereka mampu memikul tanggung jawab yang besar bagi komunitasnya.

Pulih Melalui Pelayanan

Meskipun ia memiliki latar belakang teknis yang kuat, Peringatan kini merasa panggilannya telah bergeser. Setelah menjalani "masa orientasi" selama 9 bulan sebagai asisten, ia berencana untuk mendedikasikan hidupnya dalam pelayanan di yayasan tersebut.

Baginya, dukungan medis memang penting, tapi keteguhan hati dan spiritualitas adalah jangkar utamanya untuk tetap stabil. "Mau bantuan medis apa pun, kalau tidak berpegang teguh pada Tuhan, akan sulit. Saya sudah merasakan sendiri bagaimana pikiran yang tidak tenang bisa sangat mengganggu," tuturnya.

Harapan untuk Masa Depan

Peringatan punya mimpi yang manusiawi yaitu ingin berguna bagi masyarakat, memiliki pekerjaan tetap, dan membangun keluarga. Namun lebih dari itu, ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih pada panti rehabilitasi yang berjuang dari nol.

"Harapan saya, tempat ini bisa jadi berkat untuk banyak orang. Di sini saya menemukan tempat yang aman dan nyaman," tutupnya.

Peringatan adalah bukti hidup bahwa proses pemulihan bukan berarti seseorang menjadi "tidak berdaya". Sebaliknya, pulih adalah saat seseorang bisa kembali memegang kendali atas hidupnya dan menjadi tangan yang menolong bagi orang lain yang masih berjuang di jalan yang sama.

 

Ditulis oleh: Alfitra Yosi Putrijaya

30 Desember 2025