Sejarah Kami

Sejarah Kami

“Dimana Semua Langkah Dimulai, Langkah Kami Saat Ini dan Kedepan”

Pusat Rehabilitasi YAKKUM didirikan pada tanggal 16 November 1982 dan pada awal berdirinya Bernama Proyek Rehabilitasi Bethesda dengan inisiasi Bapak Collin McLennan, warga negara New Zealand yang memiliki kepedulian tinggi untuk permasalah sosial termasuk untuk isu disabilitas. Pada awal berdirinya proyek ini didedikasikan untuk membantu dan memberikan dukungan pada orang dengan difabel fisik.

Pusat Rehabilitasi YAKKUM sendiri didirikan atas persetujuan Konsil Gereja Indonesia, di Tomohon Sulawesi Utara. Proyek Rehabilitasi Bethesda pada awalnya dikerjakan secara langsung oleh Rumah Sakit Bethesda. Dengan dukungan pendanaan dari EZE pada tahun 1987, lembaga ini kemudian mampu mendirikan bangunan di Jl. Kaliurang Km 13,5, Desa Besi, Yogyakarta, seluas 9000 m2 dan dinamakan menjadi Pusat Rehabilitasi YAKKUM.

Perjalanan Kami

Masa 1982 – awal tahun 2000

Program dan layanan yang kami jalankan pada periode 1982 – awal tahun 2000 berfokus pada anak – anak dengan kondisi disabilitas dan difabel dewasa untuk memberikan layanan yang berfokus pada intervensi fisik dan vocational training yang kami pusatkan di dalam sentra. Pendekatan yang kami gunakan adalah rehabilitasi berbasis institusi dengan model penempatan di dalam sentra dengan periode 6 – 8 bulan untuk mendapatkan program dengan karakter seperti kursus ketrampilan, dukungan medis dan pendidikan untuk dapat terintegrasi dengan pendidikan umum.

Masa 2000 – 2016/Awal 2017

Periode ini menjadi masa pembelajaran bagi lembaga dengan adanya proses refleksi pelaksanaan program pendekatan berbasis institusi yang dirasa kurang kuat dalam membawa dampak dan perubahan pada mitra dampingan.  Program yang kami kerjakan kemudian mengkombinasikan antara pendekatan berbasis institusi dengan tetap memberikan layanan dalam sentra (kursus keterampilan, pemberian dukungan alat bantu dan Pendidikan) dengan pendekatan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM), terutama pada aspek pendekatan dua arah (twin track approach) untuk menjawab kebutuhan difabel secara lebih luas dan memastikan pelibatan berbagai stakeholder kunci dalam masyarakat untuk memastikan keberlanjutan.

Sejak 2007, sebagian besar program yang kami jalankan kemudian diletakkan langsung pada target wilayah sebagai upaya penyadaran dan membangun upaya rehabilitasi yang mandiri dan berkelanjutan di tengah masyarakat. Ragam program yang kami jalankan kemudian berfokus pada pendampingan dan pengorganisasian difabel, salah satunya melalui kerangka program livelihood. Hal ini menjadi roh kerja lembaga untuk meningkatkan kapasitas dan kesempatan bagi difabel untuk memperoleh kemandirian ekonomi. Pada aspek lain adanya pengorganisasian difabel bertujuan untuk membangun ruang komunikasi strategis dengan adanya Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDis) guna memastikan pemenuhan hak mereka.

Pada masa ini layanan kami pada sektor edukasi juga tetap kami laksanakan dengan menyediakan program Pendidikan bagi anak difabel di dalam sentra namun juga memberikan pendampingan pada PAUD yang ada di target area untuk mengenalkan konsep awal Pendidikan inklusif yang berfokus pada peningkatan skill kognitif dan mengkombinasikan dengan program rehabilitasi medis untuk mendukung perkembangan fisik anak dan juga meningkatkan kapasitas orang tua melalui layanan psikososial dan fisioterapi agar dapat memberikan layanan mandiri yang berkelanjutan.

Program pengurangan resiko bencana juga kami jalankan untuk mengurangi resiko bagi kelompok difabel yang tinggal di area yang berpotensi bencana sekaligus untuk memberikan edukasi dan upaya advokasi pada pemerintah lokal untuk tetap melihat kapasitas dan pelibatan difabel dalam konteks bencana.

Masa 2017 – Hari ini

Tahun 2017 menjadi salah satu milestone terbesar bagi kami. Dengan disahkannya UU nomor 8/2016 yang memasukkan difabel psikososial menjadi salah satu ragam disabilitas. Pusat Rehabilitasi YAKKUM merespon hal tersebut dengan melaksanakan program pilot pertama untuk Kesehatan jiwa dengan adanya program dan model rehabilitasi sosial Kesehatan jiwa masyarakat. Program ini bertujuan untuk memberikan penyadaran bahwa isu Kesehatan jiwa tidak hanya terbatas pada sektor Kesehatan namun yang lebih utama Adalah peningkatan kapasitas dan penyadaran keluarga, juga pelibatan multi sektor untuk memberikan dukungan pada difabel psikososial.

Modeling tersebut kami laksanakan di 3 Kabupaten, 21 Desa di DI Yogyakarta dan memberikan kemanfaatan langsung kepada lebih dari 700 difabel psikososial dan pendamping. Peningkatan kapasitas, pendampingan bagi difabel psikososial dan keluarganya serta pengorganisasian melalui pembentukan kelompok swabantu serta kolaborasi dan advokasi kepada pemerintah di tingkat desa sampai dengan Kabupaten menjadi penerjemahan pendekatan bersumberdaya masyarakat yang kami lakukan.

Selain milestone diatas, periode 2017 - 2020 ini juga membawa langkah besar bagi lembaga, untuk pertama kalinya Pusat Rehabilitasi YAKKUM mengelola program berskala nasional, Program PEDULI yang membawa kami sebagai mitra payung dan bekerja bersama mitra pelaksana di tingkat lokal.14.420 orang telah dijangkau sepanjang periode pelaksanaan proyek sebagai penerima manfaat langsung dan 7.379.239 penerima manfaat tidak langsung di 10 Kabupaten/Kota.

Hari ini dan Masa Datang

Periode pasca COVID, terdapat perubahan pada Sebagian karakter program yang kami jalankan. Intervensi kami kemudian tidak hanya bersifat delivery layanan (pemberian alat bantu dan layanan fisioterapi) saja, namun juga semakin menguatkan aspek advokasi untuk mendorong kebijakan dan anggaran yang lebih berpihak dengan adanya kolaborasi dengan berbagai stakeholder pemerintah di tingkat nasional seperti Kementerian/Lembaga.

Pada sektor Kesehatan jiwa, program Open The Gate misalnya, setelah Fase 1 (2022 – 2024)  bertujuan untuk membangun modelling layanan dalam panti yang lebih terbuka dan terintegrasi dengan masyarakat, fase 2 ini kemudian menggarisbawahi bagaimana program yang dijalankan dapat membangun sistem Layanan Harian dan modelling Family Support Group di area dampingan bersama dengan berbagai perwakilan pemerintah – multisektoral dalam kerangka TPKJM (Tim Penggerakan Kesehatan Jiwa Masyarakat).

Skema program Kesehatan jiwa dengan mengkombinasikan layanan balai rehabilitasi kesehatan jiwa yang lebih terbuka dan integrasi teman-teman difabel psikososial dalam masyarakat melalui pembentukan kelompok swabantu kemudian kami jalankan di tingkat nasional melalui program DIGNITY (Disability Inclusion Through Strengthening Local to National Capacity and Policy). Program ini membawa kami sebagai lembaga intermediary/mitra payung dengan adanya kolaborasi pelaksanaan program di 7 Provinsi bersama dengan 7 Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di tingkat lokal.

Milestone lain yang penting bagi lembaga Adalah dilaksanakannya modelling baru program Kesehatan jiwa, ASIK (Aksi Sejat jiwa, Inisiatif dan Kontribusi dari anak muda) yang bertujuan untuk membangun lingkungan yang aman dan mendukung Kesehatan mental dan kesejahteraan kelompok muda untuk dapat mencapai potensi penuh dan menjalani kualitas hidup yang baik. Untuk pertama kalinya kami menjalankan program Kesehatan jiwa yang berfokus pada aspek promotif dan preventif, menyasar pada kelompok muda yang diwakili oleh 4 sekolah Tingkat atas (SMA) dan 4 Karang Taruna.

Selain milestone dalam aspek Kesehatan jiwa, mulai tahun 2022 Pusat Rehabilitasi YAKKUM juga memulai halaman baru pelaksanaan modelling program yang menggabungkan aspek programatik dan riset. Program pertama yang kami laksanakan adalah Digital Health Hub Rehabilitation Program berkolaborasi dengan Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) yang berfokus pada penyediaan layanan alat bantu komprehensif menggabungkan antara Biomekanikal terapi (terapi kekuatan massa otot), penyediaan alat bantu menggunakan system Pressure Casting/PCAST dan konseling.

Mulai tahun 2025, terdapat 2 program riset lain yang kami jalankan. Pertama adalah Pembangunan atlas Kesehatan jiwa – One Map for Mental Health Atlas (OMMHA) berkolaborasi dengan Sydney University dan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) untuk membangun peta layanan Kesehatan jiwa yang dapat memberikan informasi keberadaan layanan khususnya bagi Kabupaten Kebumen. Advokasi hasil riset tingkat nasional menjadi aspek penting dan akan digawangi oleh Kementerian Kesehatan sebagai dewan penasehat Tingkat nasional.

Program riset kedua adalah Riset kolaborasi dengan Center For Tropical Medicine UGM dalam mengembangkan teknologi Xray Tubercolosis berbasis AI, dimana AI Xray ini akan mendukung dokter radiologis untuk membaca hasil Xray lebih cepat dan hal ini akan sangat membantu daerah-daerah terpencil yang jauh dengan layanan kesehatan sehingga tenaga medis lokal dapat mengetahui hasil screening awal dengan menggunakan TB Xray AI. Kami mendukung riset ini dengan mendampingi tim riset agar proses dan hasil riset mampu mengarusutamakan prinsip-prinsip GEDSI, terutama dalam mendorong agar riset dapat memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk dapat berpartisipasi aktif.

Selain di bidang program salah satu milestone terbesar lembaga adalah dibangunnya Resource Center Kesehatan Jiwa dan Disabilitas Pusat Rehabilitasi YAKKUM. Terminologi Resource Center dipilih karena karakternya yang tidak hanya berfokus pada pemberian pelatihan dan workshop, namun juga adanya 4 pilar yang menjadi tonggak yaitu: Pengelolaan Pengetahuan yang berfungsi salah satunya adalah untuk mengkompilasi pengalaman, pengetahuan dan pembelajaran lembaga, Pilar SDM yang berfungsi untuk mengidentifikasi dan membangun fasilitator-fasilitator handal untuk isu Kesehatan jiwa dan disabilitas, Pilar Laboratorium Sosial yang bertujuan untuk memastikan terbangunnya kolaborasi yang berkelanjutan dengan kelompok dan mitra Pembangunan yang ada di Tingkat lokal dan Pilar Jejaring yang berfungsi salah satunya untuk mendiseminasi Resource Center dan memastikan terbangunnya kolaborasi yang lebih luas.

Tentunya kerja – kerja diatas tidak berhenti disini. Pusat Rehabilitasi YAKKUM merupakan lembaga pembelajar yang adaptif. Pengembangan baru akan terus kami jajaki untuk memastikan layanan yang terus berjalan sesuai dengan perkembangan jaman.

Sampai jumpa di Sejarah kami yang lain!

×

Modal Header


Png, Jpg, Jpeg, Gif
Docx, PDF, Zip
Png, Jpg, Jpeg, Gif

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim. Donec pede justo, fringilla vel, aliquet nec, vulputate eget, arcu. In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim. Donec pede justo, fringilla vel, aliquet nec, vulputate eget, arcu. In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium.

Berita / Cerita

Rayakan World Clubfoot Day 2026, 10 Anak di DIY Lulus Treatment Metode Ponseti

Melalui peringatan hari Clubfoot Sedunia World Clubfoot Day 2026 ini, Pusat Rehabilitasi YAKKUM melalui Program Peningkatan Layanan Clubfoot/CTEV dengan dukungan MiracleFeet didedikasikan untuk merayakan anak-anak tangguh yang akhirnya berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian protokol medis dan dinyatakan lulus treatment.

Komunitas Agama Tak Lepas dari Isu Kesehatan Mental: Pengalaman Penghayat Kepercayaan

Di tengah kehidupan masyarakat Yogyakarta yang dikenal ramah dan penuh keberagaman, komunitas Penghayat Kepercayaan ternyata masih menghadapi banyak persoalan. Tidak sedikit dari mereka yang hidup dalam perasaan takut, minder, dan memilih menyembunyikan identitas karena khawatir mendapatkan diskriminasi dari lingkungan sekitar. Persoalan ini bukan hanya soal keyakinan, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental dan rasa percaya diri mereka sebagai manusia.

Ketika Bunyi Kayu Tenun Kembali Bertalu di Bondo Kodi

Di sebuah tempat di Weekomboko, Desa Bondo Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, bunyi ritme kayu yang saling beradu kembali terdengar. Di bawah rumah panggung gedek beratapkan ilalang tinggi, seorang perempuan bernama Ribka sedang duduk berselonjor. Tangannya dengan lincah bergerak di antara helaian benang merah dan putih seperti bendera Indonesia, merajut motif-motif tebal di atas helaian kain. Di luar rumah, angin pesisir Sumba bertiup kering melewati rumput-rumput yang mengelilingi rumahnya. Bagi orang awam, pemandangan Ribka menenun di depan rumah ini mungkin terlihat biasa. Namun bagi warga Weekomboko, setiap hentakan alat tenun kayu itu adalah bunyi perayaan atas kembalinya sebuah martabat.

Kado Terindah di Usia 4 Tahun: Perjuangan Alesha Pulih dari Clubfoot/CTEV

Memiliki buah hati dengan kondisi Clubfoot/CTEV atau yang sering dikenal dengan kaki pengkor tentu menjadi ujian kesabaran bagi orang tua. Inilah yang dirasakan oleh Bunda Vidi saat putri kecilnya, Alesha, didiagnosis mengalami Clubfoot/CTEV bilateral (kedua kaki) sejak lahir.

Berita dan cerita lainnya
UNTUK UPDATE TERBARU SILAHKAN SIGN UP EMAIL ANDA