Resource Center Pusat Rehabilitasi YAKKUM adalah pusat sumber informasi dan pembelajaran untuk membangun serta meningkatkan kapasitas terkait inklusi disabilitas dan kesehatan jiwa berbasis masyarakat baik secara internal maupun eksternal lembaga. Resource Center PRY hadir sebagai upaya untuk berkontribusi dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dalam berbagai sektor di Indonesia.
Di bawah naungan Pusat Rehabilitasi YAKKUM yang adalah lembaga Sosial (NGO) memiliki mandat untuk memberikan layanan yang holistik kepada orang dengan disabilitas dan telah memiliki pengalaman dan kemampuan dalam mendampingi orang dengan disabilitas lebih dari 40 tahun. Kami hadir sebagai solusi yang tepat atas semakin tingginya kesadaran akan pentingnya membangun masyarakat yang lebih inklusif di berbagai sektor pembangunan di Indonesia.
Materi dan metode pelatihan yang di desain menarik dan disesuaikan dengan kebutuhan dari target peserta pelatihan sehingga menjawab kebutuhan dari peserta pelatihan membuat kami dipercaya memberikan pelatihan di berbagai sektor pembangunan di Indonesia hingga saat ini seperti : sektor kesehatan (Rumah Sakit & Puskesmas), sektor Pendidikan (Sekolah & Universitas), Sektor Pariwisata (Hotel), sektor keagamaan (Gereja) dan juga sektor-sektor pembangunan lainnya sebagai bentuk kontribusi dalam mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif.
Fakta bahwa saat ini masih banyak penyandang disabilitas yang masih menemui banyak hambatan terkait dengan pemenuhan hak, seperti aksesibilitas yang tidak layak, perundungan/stigma, serta terbatasnya pengetahuan terkait disabilitas. Oleh karena itu, kami menawarkan pelatihan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) terkait dengan disabilitas di Instansi bapak/ibu untuk menjawab kebutuhan ini.
âUpaya dan inisiasi yang kami jalankan bersama dengan Bapak Ibu semua ini sangat sesuai dengan visi YAKKUM untuk memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat di berbagai pelosok untuk transformasi layanan kesehatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Kami berharap hal-hal yang kami miliki ini menjadi modalitas sederhana yang dapat digunakan Timor-Leste untuk mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi khususnya yang terkait dengan kebutuhan rehabilitasiâ. (Pdt. Simon Julianto, S.TH, M.SI â Ketua Pengurus YAKKUM) Tidak meratanya layanan kesehatan sudah jadi realita yang terjadi di banyak negara, terutama di negara-negara miskin dan berkembang, salah satunya Timor-Leste Ketimpangan tersebut terjadi pada banyak negara karena kemiskinan, sulitnya akses pada layanan dan tidak tersedianya tenaga kesehatan yang mencukupi. Pada penghujung tahun 2025, kami mendapatkan kesempatan untuk dapat mengembangkan sayap, memperluas layanan bagi yang membutuhkan di Timor-Leste
Di Desa Loloanaâa Lolomoyo, Gunungsitoli, pisang kepok bukan sekadar komoditas kebun yang biasa dijual mentah ke pasar. Bagi 35 anggota Kelompok Swabantu (SHG) Kasih, buah ini adalah media untuk membuktikan satu hal: bahwa disabilitas psikososial bukanlah penghalang untuk menjadi produktif. Pada 17 November lalu, suasana di desa tampak berbeda. Para anggota kelompok, yang terdiri dari orang dengan disabilitas psikososial (ODDP), penyandang disabilitas fisik, serta para pendamping, berkumpul bukan untuk sesi konseling formal, melainkan untuk mengolah tepung pisang.
Bagi sebagian besar orang, sebuah tempat pemulihan mungkin dianggap sebagai titik akhir. Namun bagi Peringatan, Panti Rehabilitasi ini adalah ruang di mana ia menata kembali hidupnya yang sempat terhenti sejenak, sekaligus tempat ia menemukan panggilan baru. Peringatan bukan lagi sekadar nama di daftar pasien. Lima tahun setelah pertama kali menginjakkan kaki di sini, pria asal Gunungsitoli ini kini berdiri dengan peran berbeda: sebagai asisten staf.
Bagi Nengsih, waktu dua tahun dua bulan di Yayasan Peduli Kasih Bangsa (YPKB) Nias adalah perjalanan panjang untuk mengenali diri kembali. Hari-harinya terukur dalam jadwal yang rapi: ibadah pagi, senam bersama kawan-kawan difabel psikososial, hingga kelas keterampilan membuat tempe dan batako. Di antara rutinitas itu, Nengsih menemukan kegembiraan sederhana setiap bulan: memanggang kue bolu untuk merayakan ulang tahun kawan-kawannya. Di balik aroma kue yang baru matang, ada sebuah harapan yang sedang ia rapihkan: harapan untuk pulang dan pulih sepenuhnya di tengah masyarakat.