Bukan Lagi Pasien: Mimpi Nengsih Menjadi Tamu di Panti Rehabilitasinya

Selasa, 30 Desember 2025
Bagi Nengsih, waktu dua tahun dua bulan di Yayasan Peduli Kasih Bangsa (YPKB) Nias adalah perjalanan panjang untuk mengenali diri kembali. Hari-harinya terukur dalam jadwal yang rapi: ibadah pagi, senam bersama kawan-kawan difabel psikososial, hingga kelas keterampilan membuat tempe dan batako.
Di antara rutinitas itu, Nengsih menemukan kegembiraan sederhana setiap bulan: memanggang kue bolu untuk merayakan ulang tahun kawan-kawannya. Di balik aroma kue yang baru matang, ada sebuah harapan yang sedang ia rapihkan: harapan untuk pulang dan pulih sepenuhnya di tengah masyarakat.

Melampaui Label dan Stigma

Sebelum perjalanan pemulihannya dimulai, Nengsih adalah seorang perempuan pekerja di Batam. Di usia 19 tahun, ia sudah berjibaku dengan mesin kapasitor sebagai operator manufaktur. Namun, tantangan kesehatan mental membawanya kembali ke Nias Utara, hingga akhirnya menjalani rehabilitasi.
Tantangan terbesar Nengsih bukanlah pada kepatuhan minum obat harian, melainkan pada bagaimana dunia luar memandangnya. Ia menyadari bahwa stigma sering kali lebih tajam daripada kondisi medis itu sendiri.
"Masyarakat sering memberi label negatif, dan itu membuatku kecil hati," ungkapnya dengan jujur. "Aku khawatir jika nanti pulang, apakah aku masih akan dikucilkan? Aku sangat berharap masa lalu yang membuatku dibawa ke sini tidak terus diungkit, karena itu bisa membuat semangatku jatuh kembali."
Ketakutan Nengsih adalah cermin dari realita banyak difabel psikososial. Sering kali, lingkungan lebih sulit untuk "sembuh" dari prasangka dibandingkan individu yang sedang berjuang untuk pulih.

Kerinduan akan Rumah yang Inklusif

Nengsih tidak mencari simpati yang berlebihan. Keinginannya sangat manusiawi: ia rindu makan enak bersama keluarga, ingin membangun rumah tangga, dan ingin kembali berdaya. Meski cita-citanya menjadi suster terbentur kendala durasi pendidikan, ia tidak menyerah pada mimpinya untuk mengabdi.
"Aku ingin bekerja di lingkungan biara, walaupun tidak jadi suster. Aku bisa memasak kue," ujarnya. Keterampilan yang ia asah di yayasan adalah bekal baginya agar bisa mandiri dan berkontribusi saat kembali nanti.
Bagi Nengsih, pemulihan bukan berarti ia kembali menjadi orang yang "sempurna" tanpa cela, melainkan kemampuan untuk menjalani hidup yang bermakna di tengah keterbatasan yang ada.

Pulang Sebagai Tamu, Bukan Pasien

Harapan Nengsih sangat sederhana namun mendalam. Ia ingin diterima oleh keluarga dan tetangga tanpa bayang-bayang masa lalu. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa pulih dan tidak menjadi beban bagi siapapun.
"Harapanku kalau nanti kembali ke yayasan, aku datang sebagai tamu yang membawa berkat, bukan lagi sebagai pasien," pungkasnya.
Kisah Nengsih adalah pengingat bagi kita semua bahwa proses pemulihan seorang difabel psikososial membutuhkan ruang aman di masyarakat. Dukungan keluarga yang menerima tanpa menghakimi adalah obat yang tidak bisa digantikan oleh zat kimia manapun. Saatnya kita berhenti memberi label, dan mulai membuka pintu untuk kembalinya mereka sebagai bagian utuh dari kita.
 
 
Ditulis oleh: Alfitra Yosi Putrijaya
30 Desember 2025