Aksi Hapus Stigma HKJS DIY 2026: Satukan Suara, Perkuat Kolaborasi, Wujudkan Inklusi

Selasa, 03 November 2026

YOGYAKARTA, 31 Oktober 2026 - Sebanyak 240 peserta turut berpartisipasi dalam Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) DIY 2026 yang berlangsung di Pintu Barat Kompleks Kepatihan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (31/10). Kegiatan ini juga dihadiri oleh Ni Made Dwipanti Indrayanti, S.T., M.T. (Sekretaris Daerah DIY), Dr. R.B. Dwi Wahyu Budianto, S.Pd., M.Si. (Ketua Komisi D DPRD DIY Bidang Kesejahteraan Masyarakat), dan Bapak Faishol Muslim, S.I.P., M.Si. (Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda DIY).

 

Peringatan ini menjadi ruang untuk memastikan pengalaman hidup, suara, aspirasi, dan kebutuhan kelompok rentan tidak hanya didengar, tetapi juga ditindaklanjuti melalui perubahan kebijakan, layanan, dan praktik di masyarakat.

 

Kemitraan antara Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRYAKKUM) dan CBM Global, bersama TPKJM DIY, Pemerintah Daerah DIY, organisasi masyarakat sipil, organisasi penyandang disabilitas, Rumpun Nurani, serta Lembaga Advokasi Keluarga Indonesia (LAKI), menegaskan bahwa perubahan membutuhkan keterlibatan semua pihak. Upaya mewujudkan ekosistem kesehatan jiwa yang inklusif tidak cukup hanya melalui kebijakan pemerintah. Diperlukan ruang kolaborasi yang mempertemukan suara Orang dengan Disabilitas Psikososial (ODDP), keluarga, kelompok rentan, tenaga layanan, masyarakat, akademisi, dunia usaha, media, hingga pemerintah.

 

Sekretaris Daerah (Sekda) Daerah Istimewa Yogyakarta, Ni Made Dwipanti Indrayanti, S.T., M.T., menekankan bahwa HKJS 2026 ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi lintas sektor.

“Melalui peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini, mari kita perkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, DPRD, perguruan tinggi, dan seluruh lapisan masyarakat, untuk bersama-sama membuat masyarakat DIY itu sehat jiwa dan raganya,” ujar Indrayanti.

 

Rangkaian kegiatan diawali dengan aksi kampanye bertema “Dengar Suara, Wujudkan Perubahan”. Peserta diajak menuliskan berbagai bentuk stigma dan diskriminasi yang masih dialami, dilihat, dan didengar, atau yang masih terjadi di masyarakat. Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan komitmen oleh perwakilan berbagai unsur. Sebagai puncak acara, aksi simbolis “Pecahkan Balon Stigma” dilakukan oleh perwakilan pemangku kepentingan secara bergantian, kemudian diikuti masyarakat sebagai simbol komitmen bersama untuk menghapus stigma dan diskriminasi.

 

Selain itu, peserta juga menyampaikan keresahan, pengalaman, dan curahan hati melalui Pojok Sambat. Ruang ini menjadi wadah bagi peserta untuk menyuarakan pengalaman mereka sekaligus mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan yang inklusif dan bebas stigma.

 

Ketua Komisi D DPRD DIY (Bidang Kesejahteraan Masyarakat) Dr. R.B. Dwi Wahyu Budianto, S.Pd., M.Si., menyoroti pentingnya deteksi dini masalah kesehatan jiwa di masyarakat. Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan jiwa masih perlu ditingkatkan. Selain itu, keterbatasan tenaga psikolog dan belum meratanya fasilitas layanan kesehatan jiwa di rumah sakit juga menjadi tantangan.

 

“Masyarakat kita belum menyadari pentingnya memeriksakan kesehatan jiwa. Disisi lain, kita masih kekurangan psikolog untuk mendeteksi kondisi kejiwaan sejak dini, dan belum semua rumah sakit menyediakan fasilitas layanan tersebut ” jelas Dwi.

Melalui pendekatan partisipatif, Aksi Hapus Stigma tidak hanya menjadi simbol penghapusan stigma dan diskriminasi, tetapi juga ruang untuk menyampaikan aspirasi kelompok rentan kepada para pemangku kebijakan. Aspirasi tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari proses perubahan kebijakan dan pembangunan daerah yang lebih inklusif.

Sejalan dengan hal tersebut, Eko Harsono, Project Manager Program Open The Gate, menyampaikan pentingnya pengembangan layanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat. Saat ini, sejumlah titik di DIY tengah menjadi lokasi percontohan layanan harian kesehatan jiwa masyarakat yang diharapkan dapat direplikasi di setiap kecamatan.

 

“Saat ini sedang ada percontohan untuk layanan kesehatan jiwa masyarakat di beberapa titik di DIY. Dan itu harapannya bisa direplikasi di setiap kecamatan untuk adanya layanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat, agar teman-teman difabel psikososial bisa mengakses di situ, seperti kegiatan produktif, berkegiatan seni, maupun berinteraksi dengan masyarakat. Sehingga pilihan bagi keluarga, balai atau panti itu adalah pilihan yang terakhir” ujar Eko.

Sementara itu, Muhammad Nabil Maulana, perwakilan teman difabel psikososial, menyampaikan harapannya agar peringatan HKJS dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menghilangkan stigma negatif terhadap teman teman difabel psikososial.

“Saya punya harapan dengan adanya HKJS ini bisa memberikan kesadaran terhadap masyarakat untuk tidak memberikan stigma negatif pada penyandang disabilitas mental seperti saya.,” tuturnya.

 

Bagi PRYAKKUM, Aksi Hapus Stigma dalam rangkaian HKJS DIY 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan Daerah Istimewa Yogyakarta yang inklusif, bebas dari stigma dan diskriminasi, serta ramah terhadap kesehatan jiwa. 

 

Melalui rangkaian peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) ini, PRYAKKUM berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan jiwa semakin meningkat. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah bersama untuk menghapus stigma dan diskriminasi, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang inklusif, mendukung, dan menghormati pemenuhan hak setiap orang, termasuk teman-teman difabel psikososial dan kelompok rentan lainnya.

Pekik Joko Sundang
31/10/2026