DARI DIKENALIN TEMEN JADI NGENALIN KE TEMEN!
Cerita Noval bersama Cupable Coffee
Awal 2023, Noval datang ke sebuah coffee shop tanpa membawa ekspektasi apa-apa. Ia hanya mengikuti ajakan temannya, Zamar, sekadar mampir, sekedar minum kopi, seperti ratusan kali ia lakukan di tempat lain. Tidak ada yang terasa istimewa dari rencana sore itu. "Setahuku ya kopi-kopi konvensional," kenangnya. Ia bahkan sempat mengira tempat itu tak jauh berbeda dari coffee shop pada umumnya, sampai ia benar-benar duduk, memesan, dan menyadari sesuatu yang berbeda dari barista yang meraciknya.
Cupable Coffee, ternyata, adalah coffeeshop yang dikhususkan bagi teman-teman difabel dengan ragam apapun untuk berkarya sebagai barista. Dan bagi Noval, yang saat itu benar-benar asing dengan dunia ini, momen itu terasa canggung. Bagi banyak orang yang baru pertama kali datang, jarak semacam itu wajar muncul, bukan karena tidak peduli, tapi karena tidak tahu harus bersikap seperti apa. Yang menarik, jarak itu tidak bertahan lama. Barista yang melayaninya hari itu, mas Eko dan mas Irfan, barista difabel fisik amputasi kedua tangan dan difabel fisik berkursi roda, membuka obrolan seperti biasa, santai, tanpa berusaha membuat siapa pun merasa berbeda. "Ternyata mereka terbuka juga," kata Noval, "dan akhirnya semua menganggap itu hal yang biasa saja."
Satu kunjungan berubah jadi dua, dua jadi kebiasaan, tanpa disadari, hampir tiga tahun berlalu, dan Noval masih terus kembali. Yang membuatnya betah bukan cuma rasa kopinya, meski itu juga alasan, terutama karena harganya yang menurutnya jauh lebih ramah di kantong mahasiswa dibanding coffeeshop lain dengan kualitas serupa. "Untuk harga segini, di tempat lain range-nya beda jauh," katanya. "Yang seharga segini itu, nggak mungkin ada."
Namun, ada alasan lain yang sulit untuk dijelaskan, rasa penasaran yang perlahan berubah jadi kedekatan. Ia mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya luput dari pandangannya, jalur di lantai yang ia kira cuma hiasan, ternyata dirancang untuk membantu mobilitas. Nampan yang tampak biasa saja, ternyata punya desain khusus untuk memudahkan mas Eko bekerja. Ia baru menyadarinya bertahun-tahun setelah jadi pelanggan tetap. "Tak kira ornamen," ujarnya, hampir tak percaya pada dirinya sendiri. "Ternyata itu sangat membantu."
Ia juga baru tahu bahwa mas Eko dan mas Irfan bukan sekadar barista, mereka adalah lulusan pelatihan barista inklusif, sebagian bahkan aktif sebagai atlet di luar jam kerja mereka. Setiap obrolan membuka satu lapis cerita baru: soal pelatihan bahasa isyarat yang rutin diadakan, soal event-event komunitas, soal kehidupan di balik meja bar yang selama ini tidak pernah ia tanyakan langsung. "Itu kan sebenarnya pertanyaan yang bikin kita nggak enak kalau menanyakan langsung," katanya, "kecuali sudah kenal dekat." Dan lambat laun, mereka memang menjadi dekat.
Ada satu momen yang mengubah Noval dari pelanggan yaitu menjadikan pengalaman tersebut tidak hanya berhenti padanya, yaitu menjadikan orang lain merasakan hal yang sama dengannya. Ia mulai mengajak teman-temannya satu per satu. Bukan dengan penjelasan panjang tentang inklusivitas atau kalimat-kalimat formal, cukup ajakan sederhana ala anak muda, semacam "ada kopian di Yakkum, coba deh." Ia membiarkan teman-temannya menemukan sendiri apa yang ia temukan, tanpa dituntun terlalu jauh. "Sebenarnya aku ingin memberikan experience yang sama," katanya, "yang aku rasakan, ke teman-temanku."
Kini, hampir sepuluh orang sudah ia ajak. Dan pola yang sama selalu berulang, teman-temannya datang dengan sedikit canggung, memilih kata dengan hati-hati, ragu harus bersikap seperti apa. Tapi begitu mengobrol langsung dengan para barista, kecanggungan itu mencair dengan sendirinya. Bagi Noval, itulah tantangan terbesar yang ia pelajari sejak awal, bukan soal kata-kata yang benar secara teori, tapi soal keberanian untuk mengobrol tanpa takut atau salah. "Yang kupikir awal-awal begitu," ujarnya, "bagaimana caranya bertanya tapi nggak membuat tersinggung". Jawabannya ia temukan bukan dari mencari istilah yang sempurna, tapi dari percakapan yang mengalir dan berulang.
Suatu hari, sebelum ia sempat bertanya, matanya tertumbuk pada sebuah kaos bertuliskan "inklusi". Ia penasaran, lalu mencarinya sendiri di internet. "Aku lihat kaos ini, terus aku searching sendiri," katanya. Dari satu kata di secarik kain itu, Noval mulai memahami bahwa yang ia jalani selama tiga tahun terakhir bukan hanya kebiasaan minum kopi. Ada filosofi dibaliknya, tentang kesetaraan, tentang ruang yang terbuka untuk siapa saja. Ketika diminta merangkum semua yang ia rasakan selama hampir tiga tahun ini dalam satu kalimat, Noval tidak butuh waktu lama untuk menjawab. "Cupable bagiku ya... kita manusia, sih, mas," katanya, lalu tersenyum kecil sebelum melanjutkan. "Istilahnya, melebur dalam cangkir." Kalimat itu baginya adalah gambaran paling tepat tentang apa yang terjadi setiap kali ia datang, sebuah tempat di mana kecanggungan mencair, di mana perbedaan berhenti menjadi jarak, dan di mana semua orang, siapapun mereka, bisa duduk sejajar hanya dengan secangkir kopi dan obrolan yang tulus.
Di penghujung ceritanya, Noval menitipkan satu pesan, untuk siapa pun yang mungkin akan menempuh perjalanan yang sama seperti dirinya tiga tahun lalu. "Yang datang baru pertama itu masih canggung untuk berbicara atau bertanya-tanya," katanya. "Kalau dari baristanya merangkul dahulu kok, dan aktif membuka obrolan, membuat nyaman." Karena bagi Noval, semua bermula dari rasa nyaman itu, sesuatu yang tidak datang instan, secangkir demi secangkir, obrolan demi obrolan. Dari yang tadinya diajak, ia kini menjadi yang mengajak. Dan mungkin, begitulah cara sebuah ruang yang inklusif benar-benar tumbuh, bukan lewat kampanye besar, tapi lewat satu orang yang berani datang lagi, dan lagi, sampai akhirnya membawa serta orang lain bersamanya.
Client story ini disusun berdasarkan wawancara dengan Noval, pelanggan setia Cupable Coffee sejak 2023.
Pekik Joko Sundang