Mengupayakan Pendidikan Inklusif Sejak Dini: Cerita Seorang Kader Posyandu mendirikan Kelompok Bermain Mumtazah di Karanganyar

Jumat, 13 Maret 2026

Naning Supriyanti, akrab disapa bu Naning, adalah seorang guru sekaligus kepala sekolah dari sebuah Kelompok Bermain sederhana di sudut kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sekolahnya terletak di kompleks perumahan khas Kabupaten. Rumah-rumah berjejer rapi saling berdekatan. Terdapat jalanan gang yang memisahkan satu cluster rumah dengan cluster lainnya, dan berbatasan langsung dengan hamparan sawah hijau. Sekolah yang kecil itu, ia rintis dan bangun sejak tahun 2018 karena kecintaan dan kepeduliannya pada anak-anak. 

Bu Naning akrab dengan dunia anak-anak sejak SMA karena ia selalu diminta membantu ibunya menjadi kader Posyandu. Perannya sebagai kader Posyandu Bina Keluarga Balita (BKB) terus berlanjut hingga ia lulus kuliah. Dari sana ia melihat ada banyak anak usia balita di lingkungan sekitarnya, tetapi belum ada satupun ruang bermain bersama. Anak-anak seringkali hanya disediakan gawai agar mereka tetap tenang dan orang tua bisa bekerja atau mengerjakan aktivitas domestik.  

Belasan tahun pengalamannya menjadi kader Posyandu menyadarkan bu Naning bahwa anak-anak di usia balita harus mendapatkan stimulasi yang tepat untuk mendukung tumbuh kembang  yang optimal. Jangan sampai periode itu terlewat begitu saja.  

“Usia emas anak itu hanya datang sekali, Mbak! Apa yang kita tanam hari ini, akan mereka tuai sepanjang hidupnya”, tuturnya.   

Bermodalkan niat yang kuat, Ia memulai dengan cara sederhana dan modal seadanya. Ia mencari murid dengan berkeliling dari rumah ke rumah yang memiliki anak balita sambil menyodorkan brosur sederhana, menawarkan kepada orang tua agar anaknya bergabung di Kelompok Bermain yang ia inisiasi. 

Saat itu belum ada bangunan sekolah, maka ia jadikan rumahnya sebagai kelas. Terkadang memanfaatkan aula yang biasa digunakan untuk kegiatan Posyandu. Lama-kelamaan muridnya bertambah. Bu Naning mulai menghadapi tantangan terkait biaya operasional. Lebih banyak murid artinya ia harus membeli lebih banyak alat-alat dan media bermain. Awalnya, semua biaya sekolah ditanggung oleh Bu Naning sendiri, tidak ada pungutan biaya apapun kepada orang tua. Maka, praktis bu Naning juga tidak mendapat gaji dari menjadi guru Kelompok Bermain. 

“Saya hanya ingin mengajarkan anak-anak dua Kalimat Syahadat dan Al-Fatihah”, ujarnya. “Walaupun mereka belum bisa lancar menirukan, cukup mendengar saja setiap pagi sudah  sangat baik”. 

Dari harapan PNS ke Panggilan Hati 

Bu Naning adalah seorang ibu dari dua anak, yang sulung duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, sementara yang bungsu di kelas 1. Selain bersama kedua anaknya, bu Naning juga tinggal bersama ibunya. Suaminya merantau ke luar pulau untuk bekerja menghidupi keluarga. Secara ekonomi, kebutuhan  keluarganya tercukupi, dan memiliki asuransi kesehatan dari tempat kerja suaminya.  

Orang tuanya dulu berharap ia menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) agar punya pekerjaan tetap dan stabil, gaji pasti, serta status sosial yang jelas. Kesempatan itu sempat dicobanya. Ia melamar sebagai guru PNS, tapi ternyata tidak diterima. Kemudian jalan hidupnya berubah. Alih-alih menjadi PNS, ia memutuskan untuk membangun sekolahnya sendiri mengikuti panggilan hatinya.  

Namanya Kelompok Bermain Mumtazah. Nama tersebut ia pilih dengan penuh makna dan harapan.

“Mumtazah itu artinya istimewa. Saya berharap pelayanan di KB Mumtazah juga bisa memberikan yang terbaik”, katanya. 

Sejak awal, KB Mumtazah terbuka bagi semua anak. Di titik itu, tantangan mulai muncul. Ketika jumlah anak bertambah banyak, bu Naning sadar ia butuh dukungan dari banyak pihak, termasuk dari pemerintah, baik dari dinas pendidikan maupun pemerintah desa agar sekolahnya bisa terus berlanjut. Ia kemudian mulai mengurus administrasi perizinan untuk mendirikan Kelompok Bermain. Dalam perjalanannya, pihak pemerintah desa akhirnya mengizinkan bu Naning dan siswa-siswanya untuk menempati sebuah bangunan bekas Perpustakaan SD yang dibangun di atas tanah desa. Bangunan tersebut memiliki 3 kelas, 2 kelas digunakan untuk TK dan 1 kelas digunakan untuk KB Mumtazah.         

Sekolah Kecil Tanggung Jawab Besar 

Hari ini, sebagai kepala sekolah, Bu Naning mengelola KB Mumtazah bersama tiga guru lainnya. Sekolah ini beroperasi dengan dukungan dari kombinasi dana BOP, iuran orang tua, dan dukungan pemerintah desa sebagai insentif guru. 

KB Mumtazah semakin dikenal, dan semakin banyak orang tua yang mendaftarkan anaknya. Dengan komitmen keterbukaan bagi semua anak, artinya KB Mumtazah menerima anak dengan beragam karakter dan kebutuhan, termasuk anak dengan kebutuhan khusus. 

Awalnya, Bu Naning dan guru-guru di KB Mumtazah tidak sepenuhnya memahami konsep anak berkebutuhan khusus. Mereka pernah mengira bahwa anak berkebutuhan khusus cukup dikenali dengan perbedaan ciri fisik. Sementara, dalam pengalaman sehari-hari, guru-guru pernah menghadapi anak yang menunjukkan perilaku agresif, dan terlambat bicara. Anak itu dilabeli “nakal” atau “gak bisa diatur”. Guru-guru belum mengerti bagaimana menghadapi situasi tersebut. Akhirnya keluarga membawa anaknya keluar dari sekolah. 

“Kami ingin tetap mempertahankan anak tersebut, tapi kami juga menyadari kalau kami  memiliki keterbatasan pengetahuan. Kami mencoba menambal pengetahuan kami dengan cari-cari informasi sendiri”, ungkap Bu Naning. 

Titik baliknya adalah ketika Pusat Rehabilitasi YAKKUM melalui program Learning Unlocked memberikan pendampingan dan peningkatan kapasitas kepada guru-guru KB Mumtazah. Program ini fokus untuk membantu penyelenggaraan pendidikan inklusif di level PAUD, melalui berbagai pelatihan guru, mulai dari cara identifikasi ABK, penyusunan kurikulum inklusif, pembuatan PPI, hingga pendampingan kepada ABK. Dalam proses ini, para guru belajar ulang tentang makna menerima. 

Mereka belajar bahwa anak  berkebutuhan khusus tidak selalu terlihat  dari raut wajah. Bahwa perilaku anak agresif bisa jadi adalah cara anak mengkomunikasikan kebutuhan. Bahwa duduk sendiri di pojok kelas bukan berarti anak tidak ingin ikut belajar. Pada akhirnya, perubahan paling mendasar adalah pada cara pandang. Guru mulai mengidentifikasi hambatan belajar sejak dini, sehingga mampu memberikan pendampingan dengan tepat. Komunikasi dengan orang tua juga menjadi lebih terbuka. Setiap perkembangan anak, sekecil apapun dikomunikasikan dan didiskusikan. 

Di KB Mumtazah, inklusivitas akhirnya tidak hanya sekadar slogan. Anak-anak diajarkan untuk mengenal dan memahami keberagaman sejak dini untuk menumbuhkan empati. 

Saat ini, tantangan terbesar bu Naning bukan lagi dari anak-anak, melainkan dari orang dewasa. Bu Naning dan para guru terus berupaya agar para orang tua menyadari pentingnya upaya stimulasi motorik, kognitif dan sosial-emosional pada anak sejak dini. Harapannya, tidak ada lagi orang tua yang malu menyekolahkan anaknya yang berkebutuhan khusus, atau orang tua yang  khawatir anaknya bersekolah bersama ABK. 

Pendidikan inklusif tidak harus lahir dari gedung yang megah atau fasilitas yang canggih. Ia tumbuh dari komitmen, keberanian, dan konsistensi seorang guru. 

12 Maret 2025

Penulis: Chamida M