Membawa Empati ke Garis Depan: Kenapa Nakes di Lokasi Bencana Harus Paham Inklusi?
Ratusan tenaga kesehatan (nakes) baru saja dilepas menuju titik-titik bencana di Aceh, Sumatera Utara. Langkah cepat pemerintah ini tentu patut kita acungi jempol di tengah puing dan darurat, kecepatan memang seringkali menjadi penentu hidup dan mati.
Namun, ada satu realita di lapangan yang kerap luput dari radar kamera: apakah bantuan yang cepat itu sudah menjangkau semua orang dengan tepat?
Pusat Rehabilitasi YAKKUM sering menemui celah ini dalam konsep Disability Inclusive Development (DID). Bukan karena kurangnya niat baik, tapi karena kurangnya pemahaman teknis saat menghadapi kawan difabel di situasi bencana.
Luka yang Tidak Terasa
Seorang rekan medis kami pernah berbagi cerita duka saat respon gempa di Bantul. Dalam hiruk pikuk evakuasi, ada pasien difabel paraplegi yang diberikan terapi inframerah. Nakes saat itu tidak menyadari bahwa pasien tersebut tidak memiliki sensasi rasa di kakinya. Alih-alih pulih, pasien justru mengalami luka bakar serius karena ia tidak bisa merasakan panas yang berlebih.
“Pada saat melakukan terapi gitu di sebuah posko, nakesnya nggak tahu kalau itu paraplegi. Padahal paraplegi kan biasanya kakinya itu tidak terasa, jadi setelah dilakukan terapi dengan infrared jadi malah luka bakar di situ”, ucap Sigit Triyono A.Md.Kep. sembari mengingat kejadian pada waktu itu.
Di kasus lain, ada difabel paraplegi yang "dipaksa" berdiri atau berjalan saat proses evakuasi karena petugas tidak paham kondisi fisiknya. Di tengah kepanikan, kesalahan kecil seperti ini bukan sekadar teknis, tapi soal martabat dan keselamatan nyawa.
“Pada saat pertolongan itu mereka kurang tahu kalau yang sedang dibantu adalah seorang difabel paraplegi, jadi mereka dipaksa dituntun untuk berjalan sendiri”, tambahnya.
Hal seperti ini bukan karena niat buruk, tapi karena kurangnya pengetahuan. Di situasi darurat, kesalahan kecil bisa berdampak besar.
Salah Data, Salah Penanganan
Dalam hal berkomunikasi dan pendataan, nakes di situasi bencana juga memiliki tantangan serupa. Seringkali:
-
Teman Tuli atau Netra tertinggal informasi bantuan karena metode penyampaian yang tidak aksesibel.
-
Disabilitas Intelektual disamakan dengan Disabilitas Mental, padahal kebutuhan intervensinya jauh berbeda.
Jika dari meja pendataan saja kategorinya sudah keliru, maka bantuan yang sampai ke tenda pengungsian dipastikan akan salah sasaran..
Lebih dari Sekadar Angka
Mengirim ratusan personel ke Aceh adalah pencapaian kuantitas yang baik. Namun, harapannya, kualitas pemahaman nakes tentang inklusi juga menjadi prioritas. Nakes perlu dibekali kemampuan untuk mengenali gejala disabilitas psikososial agar trauma bencana tidak berujung pada kondisi yang lebih berat.
Sebagai mitra pemerintah, Pusat Rehabilitasi YAKKUM percaya bahwa respon bencana yang inklusif bukan hanya soal "membantu", tapi soal memastikan tidak ada satu pun nyawa yang tertinggal di belakang. Karena dalam situasi bencana, kerentanan kawan difabel seharusnya menjadi arah kebijakan kita.
Respon Bencana yang Inklusif
Melalui Resource Center Pusat Rehabilitasi YAKKUM, kami membuka ruang kolaborasi untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam isu Disability Inclusive Development. Dengan pengalaman lebih dari 43 tahun mendampingi orang dengan disabilitas, kami percaya inklusi membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, terutama dalam situasi bencana.
Kami menyediakan pelatihan kontekstual dan aplikatif, mencakup konsep dasar disabilitas, stigma dan diskriminasi, ragam disabilitas sesuai UU No 8 Tahun 2016, serta cara berinteraksi dan memberi pertolongan yang aman dan bermartabat.
Untuk kolaborasi, silakan hubungi kami melalui:
-
WhatsApp 082264240909 atau,
Bersama, kita wujudkan respon darurat yang lebih inklusif.
Penulis:
Ardhi Cahyanto K.
09 Maret 2026