Inklusi Sosial Bagi Difabel, Kilas Balik, Kini dan Masa Depan

Rabu, 18 November 2020

22 Oktober 2020. Perjalanan panjang untuk berkontribusi pada Indonesia setara dan semartabat melalui Program Peduli hampir mendekati penghujung akhir. Namun demikian banyak tonggak-tonggak yang telah ditancapkan untuk menandai adanya modal keberlanjutan gerakan inklusi sosial hingga sepanjang hayat. Gerakan tersebut untuk memastikan adanya akses terhadap layanan dasar yang setara bagi kelompok marjinal, adanya pemberdayaan dan penerimaan sosial yang lebih terbuka untuk mengakhiri stigma, serta perubahan atau bahkan memunculkan kebijakan baru yang lebih berpihak pada mereka yang selama ini dimarjinalkan.

Dalam Prolog Talkshow, Bapak Aedan Whyatt selaku Konselor Bidang Kemiskinan dan Pembangunan Sosial, Kedutaan Besar Australia menyampaikan terima kasih terhadap dukungan, komitmen dan dedikasi para mitra dalam implementasi pilar disabilitas Program Peduli yang telah meningkatkan akses, partisipasi dan penerimaan sosial  bagi 9,600 (sembilan ribu enam ratus) penyandang disabilitas; memfasilitasi alokasi dana sebesar 80 (delapan puluh) miliar rupiah untuk pembangunan inklusif disabilitas serta mendukung reformasi kebijakan untuk pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas; dan mengembangkan 153 (seratus lima puluh tiga)  Desa Inklusi di 10 (sepuluh) kabupaten dan kota.

Capaian ini tentunya bukanlah akhir dari perjuangan aktivis di isu disabilitas, namun merupakan awal dari perjuangan baru untuk mewujudkan Indonesia yang lebih inklusif terhadap orang yang selama ini dimarjinalkan.

Abdi Suryaningati, Team Leader Program Peduli The Asia Foundation mengatakan “Keunikan dari Program Peduli adalah menggabungkan pendekatan kemanusiaan dengan pendekatan tata pemerintahan, karena itu penerimaan menjadi satu hal penting yang dicapai yang mana dapat mempengaruhi hal-hal lainnya”.

Pernyataan ini didukung oleh pernyataan Bapak Bito Wikantosa (Kementerian Desa PDTT) dalam paparannya, “Kita harus membuka keran kepada siapapun warga desa untuk bisa berpartisipasi dalam pembangunan. Termasuk hak-hak penyandang disabilitas harus dipenuhi. Terimakasih kepada Pusat Rehabilitasi YAKKUM lewat Program Peduli yang didukung oleh Pemerintah Australia lewat The Asia Foundation yang sudah bekerja Bersama 9 mitra untuk memunculkan desa-desa inklusi. Nilai-nilai inklusi, toleransi, dan belarasa adalah perwujudan kesalehan sosial”.

Bapak Joni Yulianto (SIGAB Indonesia) menambahkan “Kita harus terus berimajinasi akan melanjutkan tonggak2 inklusi yg sdh ditancapkan, melalui Peduli menjadikan imajinasi itu mnjd practice to policy, lalu akhirnya mnjd policy to practice.”

Sementara dalam epilognya, K.H. Imam Azis (Staf Khusus Wakil Presiden RI) menggarisbawahi bahwa, "Kemiskinan akan hilang jika dibukakan akses. Akses harus dibuka untuk semua orang agar kemiskinan berkurang. Kita punya kewenangan kecil lewat UU 8 tahun 2016 yang bisa diperkaya dengan imajinasi-imajinasi bahwa difabel bukan lagi kelompok miskin dan orang yang menimbulkan problem-problem sosial untuk mengubah pola pikir masyarakat."