Pandemi Bukanlah Halangan untuk Belajar

Sabtu, 16 Mei 2020

"Pada masa stay at home ini justru menyadarkan saya betapa pentingnya keterlibatan keluarga dalam menumbuhkan kemandirian anak, khususnya anak dengan disabilitas."
(Elma, Wali Murid Kelompok belajar PRY)

Pendidikan yang layak merupakan hak bagi setiap anak, termasuk anak dengan disabilitas. Hal tersebut adalah salah satu dasar bagi Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRY) berkomitmen untuk mendampingi anak dengan Cerebral Palsy yang juga bertujuan untuk membekali orang tua anak guna memastikan keberlanjutan layanan secara mandiri. Pelayanan ini kami mulai sejak tahun 2006. Melalui unit pendidikan Pusat Rehabilitasi YAKKUM, kami mendapatkan kesempatan untuk memberikan pelayanan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak untuk melakukan aktifitas sehari – hari, meningkatkan kemampuan kognitif dan meningkatkan kondisi fisik anak sehingga mereka mampu untuk melanjutkan pendidikan baik melalui integrasi pada SLB (Sekolah Luar Biasa) maupun sekolah - sekolah umum. Layanan yang diberikan juga menekankan pada pentingnya peningkatan kemampuan orang tua dalam pendampingan belajar anak guna menjembatani terwujudnya pemenuhan hak pendidikan bagi anak dengan disabilitas.


Salah satu anak yang bergabung bersama dengan kami adalah Hopi Alleyanna yang berusia 7 tahun. Hopi adalah anak ke 3 dalam keluarganya. Hopi adalah salah satu anak dengan Cebral Palsy yang pada awal bergabung belum memiliki kemampuan untuk mematuhi instruksi dan mengkoordinasi gerak tangan untuk beraktifitas. Setelah 2 tahun bergabung dengan unit pendidikan PRY, Hopi menunjukkan peningkatan kemampuan pada aspek kognisi, berbahasa dan kemandirian dalam beraktifitas.


Sejak COVID-19 ditetapkan sebagai pandemi pada awal bulan Maret 2020, Hopi merupakan salah satu anak yang harus melakukan kegiatan belajar di rumah mengingat anak dengan Cerebral Palsy merupakan salah satu kelompok yang paling riskan terpapar. Namun demikian ada banyak hal yang tergali dan terbentuk pada masa belajar dirumah ini. Salah satunya adalah meningkatnya peran aktif orang tua dalam mendampingi belajar anak. Masa ‘tinggal dirumah saja’ merupakan moment yang tepat bagi orang tua untuk menerapkan ilmu yang didapatkan sekaligus meningkatkan kedekatan dan pemahaman mereka mengenai kondisi anak dan metode pendampingan belajar yang tepat bagi mereka. Setelah beberapa minggu mendampingi anaknya dirumah, Hopi dan ibunya mampu membangun kedekatan yang berpengaruh pada peningkatan kemampuan pada ketrampilan anak.


Selalu ada hal baik dalam setiap situasi, termasuk pada saat – saat buruk. Justru melalui masa pandemi ini kami dapat melihat dan percaya bahwa orang tua sesungguhnya adalah pemegang peran utama bagi tumbuh kembang anak.