Pada tahun 2017, dibuka sebuah cafe yang berbeda dengan cafe lainnya di area kantor Pusat Rehabilitasi YAKKUM di Yogyakarta. Model bisnis inovatif Cafe Cupable tidak hanya bertujuan untuk meny

Unit Prostetik dan Ortotik Pusat Rehabilitasi YAKKUM telah membuat alat bantu berkualitas tinggi selama lebih dari 30 tahun. Teknisi kami yang terampil dan berpengalaman mampu untuk membuat beragam alat bantu, prostetik dan ortotik.

Unit Kinesio Pusat Rehabilitasi YAKKUM melayani sejak tahun 2016 untuk menambah jejaring dengan terapis lain dan menyebarkan ilmu kinesio untuk kader masyarakat dengan pelatihan/training.

Yang Kami Lakukan

Kami berusaha untuk mendukung orang-orang penyandang disabilitas untuk memenuhi hak-hak mereka dengan membangun masyarakat yang inklusif melalui layanan yang berkualitas, terjangkau dan terpadu. Pekerjaan kami beroperasi di dalam Sustainble Development Goals (SDG).

Selengkapnya

Cerita Klien

    Gempa bumi tidak akan mampu menghentikan Sulistyo

    Setelah mengalami luka-luka selama gempa Yogyakarta 2006, Sulistyo yang berusia 18 tahun terus berusaha untuk menjalani hidup sesuai persyaratannya. Sulistyo tinggal di Prambanan, salah satu daerah yang paling parah terkena dampak. Dia baru berusia 7 tahun pada saat gempa, tapi dia ingat bahwa dia berusaha melarikan diri dan menyelamatkan nyawanya. Tiba-tiba, sesuatu jatuh dari atap dan menabrak tubuhnya dan dia tidak bisa merasakan kakinya.


    Selengkapnya

    Hardiyo membangun kebersamaan

    Bagi Hardiyo (51 tahun), bukan hal yang mudah untuk menerima kenyataan bahwa ia adalah seorang penyandang disabilitas. Ia mengalami paraplegia pada tahun 1992 dan sejak saat itulah, ia memutuskan untuk menghabiskan waktunya di dalam rumah. Selama 20 tahun, Hardiyo menutup diri dari lingkungan sosialnya. Di tahun 2012, Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRY) menginisiasi sebuah program pemberdayaan bagi penyandang disabilitas di wilayah Gunungkidul. Saat itulah, PRY bertemu dengan Hardiyo.


    Selengkapnya

    Sriyanto yang Pantang Menyerah

    Namanya Sriyanto, difabel Cerebral Palsy (CP), tinggal di Polokarto, Sukoharjo, Jawa Tengah. Jika berjalan, seluruh tubuhnya bergetar. Kakinya tidak menapak tanah dengan kokoh, seakan hendak terjatuh. Akibatnya ia dianggap tidak memiliki kemampuan sebagaimana yang lain. Nggih namung ngoten niku. Mboten saget nopo-nopo (Ya hanya seperti itu, tidak bisa berbuat apa-apa), demikian komentar beberapa orang termasuk keluarga tentang Sriyanto.


    Selengkapnya

Berita / Cerita

Sriyanto yang Pantang Menyerah

Namanya Sriyanto, difabel Cerebral Palsy (CP), tinggal di Polokarto, Sukoharjo, Jawa Tengah. Jika berjalan, seluruh tubuhnya bergetar. Kakinya tidak menapak tanah dengan kokoh, seakan hendak terjatuh. Akibatnya ia dianggap tidak memiliki kemampuan sebagaimana yang lain. Nggih namung ngoten niku. Mboten saget nopo-nopo (Ya hanya seperti itu, tidak bisa berbuat apa-apa), demikian komentar beberapa orang termasuk keluarga tentang Sriyanto.

Dengan dukungan tepat, Yusnita ubah hidupnya

Yusnita pernah mengalami depresi yang membuat kondisinya berubah secara ekstrim. Depresi terkadang membuatnya hanya berdiam di rumah dan tidak melakukan apapun atau justru membuatnya melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya. Sekarang, Yusnita telah menjadi pribadi yang mandiri dan menekuni pekerjaannya.

Erico adalah contoh nyata

Erico yang berumur delapan belas tahun saat ini bercita-cita menjadi seorang pengusaha yang sukses agar ia mampu mempekerjakan penyandang disabilitas nantinya. Erico terlahir dengan kondisi kongenital yang mengakibatkan ia tidak mempunyai dua bagian bawah kaki dan telapak kaki. Awalnya kedua orang tuanya tidak tahu bagaimana menangani kondisinya, namun saat orang tuanya membawa ia ke Rumah Sakit Bethesda, dokter disana merujuk Erico ke Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRY).

Gempa bumi tidak akan mampu menghentikan Sulistyo

Setelah mengalami luka-luka selama gempa Yogyakarta 2006, Sulistyo yang berusia 18 tahun terus berusaha untuk menjalani hidup sesuai persyaratannya. Sulistyo tinggal di Prambanan, salah satu daerah yang paling parah terkena dampak. Dia baru berusia 7 tahun pada saat gempa, tapi dia ingat bahwa dia berusaha melarikan diri dan menyelamatkan nyawanya. Tiba-tiba, sesuatu jatuh dari atap dan menabrak tubuhnya dan dia tidak bisa merasakan kakinya.

UNTUK MENERIMA BERITA TERBARU SUBSCRIBE NEWSLETTER KAMI